Widget HTML #1

Market Outlook 2024 - Prospek Ekonomi Global



Prospek Ekonomi Global

Prospek ekonomi global akan dipertemukan hal-hal berikut:

• Jika menilik perkiraan ekonomi dunia di 2024 merujuk kepada sejumlah lembaga internasional, terbentuk pola pemikiran yang sama bahwa mengakhiri 2023 ini pertumbuhan ekonomi berkisar 2,7-3,0% akan berlanjut di 2024 dengan tendensi melemah pada kisaran 2,5-2,8%. Bahkan ada yang ekstrim mematok 2,1%.Terdapat beberapa penyebab gambaran perekonomian global di 2024 cenderung melemah dibanding 2023. Pertama, efek kebijakan moneter ketat ditandai dengan suku bunga acuan yang tinggi dan berkepanjangan telah memperlemah perekonomian di sejumlah negara, termasuk negara-negara maju kelompok G7.

• Proses disinflasi atau deflasi berjalan lebih lambat dibanding kenaikan inflasinya sehingga menimbulkan tagline baru “higher for longer” di sejumlah negara. Maka, keputusan The Fed pada pertemuan Desember 2023 yang menahan suku bunga acuan tetap di level 5,25-5,50% memberikan sinyal kuat bahwa bank-bank sentral negara lain berpotensi mengikuti langkah ini seraya menanti waktu terbaik yang tepat untuk memulai melandaikan suku bunga acuan.

• Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok terhadap PDB dunia yang berkisar 18%, maka melemahnya perekonomian Tiongkok tentu membawa efek negatif bagi perekonomian dunia, kawasan dan negara per negara yang menjadi mitra dagang Tiongkok. Inilah yang juga melatarbelakangi sejumlah lembaga internasional terpaksa harus mendiskon outlook pertumbuhan ekonomi global di 2024.

• Geopolitik Ukraina dan Rusia membuat kelancaran rantai pasokan global terganggu sehingga menaikkan harga barang (karena ongkos logistik naik dan ketersediaan barang terbatas) sehingga berdampak pada inflasi yang melejit tinggi dan harus dijinakkan dengan menaikkan suku bunga acuan dengan segala ekses negatifnya bagi perekonomian.

• Perhatian ekstra kepada negara-negara berpenghasilan rendah (low-income countries) baik di Afrika, Amerika Latin dan Asia agar resiliensi perekonomian global lebih merata dan terdistribusi. Maka, tepat jika IMF selalu mendorong perlunya kolaborasi antarnegara untuk menciptakan pemulihan ekonomi global serentak.

• Kebijakan fiskal di berbagai negara diperkirakan masih akan tetap menjalankan peran strategisnya untuk menyerap tekanan sosial dan ekonomi, meskipun rasio defisit fiskal tetap harus menjadi perhatian utama agar tidak melampaui treshold atau ambang batas. Anggaran jaring pengaman sosial menjadi instrumen penting untuk tetap mempu menjaga daya beli masyarakat sehingga permintaan tidak terlalu tertekan. 

• Risiko geopolitik juga tetap tinggi, dengan dua konflik besar yang sedang berlangsung dan pemilu nasional yang akan segera dilaksanakan di 40 negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat.


Prospek Pasar Saham

Menjelang tahun 2024, pertumbuhan global yang lambat meliputi perkiraan pasar saham, data inflasi dan permintaan ekonomi akan melemah, karena pendorong pertumbuhan dan pasar aset risiko mulai memudar.
Secara keseluruhan, kami berhati-hati terhadap kinerja aset-aset berisiko dan prospek makro yang lebih luas selama 12 bulan ke depan, karena meningkatnya hambatan moneter, risiko geopolitik, dan penilaian aset yang mahal.

• Pasar ekuitas saham menguat pada tahun 2023. Saham-saham global tetap positif hingga saat ini, prospek pertumbuhan pendapatan belum sekuat yang diharapkan investor.

• Konsentrasi ekuitas saham di Amerika Serikat kini berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tahun 1970an, yang berarti kenaikan saham tahun ini didorong oleh sekelompok saham teknologi mega-cap. Dinamika ini, yang terlihat sebelum perlambatan ekonomi sebelumnya dan berakhirnya periode rekor harga ketika inflasi tertinggi dalam 40 tahun mulai melemah menunjukkan bahwa margin perusahaan akan menghadapi hambatan besar pada tahun 2024.

• Risiko geopolitik juga tetap tinggi, dengan dua konflik besar yang sedang berlangsung dan pemilu nasional yang akan segera dilaksanakan di 40 negara, termasuk Amerika Serikat. Oleh karena itu, volatilitas ekuitas secara umum diperkirakan akan diperdagangkan lebih tinggi pada tahun 2024 dibandingkan pada tahun 2023, dan besarnya peningkatan tersebut bergantung pada waktu dan potensi resesi pada akhirnya.



Prospek Suku Bunga

• Pembalikan siklus pengetatan/ kenaikan suku bunga bank sentral yang tercepat dan paling tersinkronisasi pada tahun 2022–23 dan pelonggaran/ pemangkasan suku bunga akan dimulai pada paruh kedua tahun 2024, dengan latar belakang pertumbuhan yang tertahan dan penurunan inflasi.

• Di sisi kebijakan moneter, siklus pengetatan pada bank-bank sentral global kemungkinan besar akan selesai pada akhir tahun 2023. Bank-bank sentral akan bersabar dalam mempertahankan suku bunga kebijakannya jika kepercayaan terhadap konvergensi inflasi terhadap target tetap terjaga, namun beberapa bank sentral akan berada di bawah tekanan untuk melakukan kenaikan tambahan jika penurunannya terlalu lambat.

• Diprediksi imbal hasil yang lebih rendah dan kurva yang lebih curam pada tahun 2024, dengan pergerakan terbesar diperkirakan akan terjadi mulai musim semi dan seterusnya. Kami memperkirakan imbal hasil Amerika Serikat tenor10 tahun sebesar 4,25% pada pertengahan tahun dan 3,75% pada akhir tahun 2024.

• Di Amerika Serikat, FOMC kemungkinan akan mulai menurunkan suku bunga pada kuartal ketiga tahun 2024 dengan kecepatan 25 bps per pertemuan, sementara pengetatan kuantitatif akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2024.



Prospek Inflasi Umum

Inflasi pada tahun 2024 diperkirakan akan melanjutkan tren penurunannya karena berkurangnya tekanan energi dan melemahnya pasar tenaga kerja, karena pengetatan suku bunga bank sentral yang dilakukan mulai membebani prospek pertumbuhan ekonomi.

(klik pada gambar untuk memperbesar)




Prospek Pasar Komoditas

• Harga energi minyak mentah akan tetap datar diperkirakan rata-rata $80 per barel pada tahun 2024 dan turun lagi sebesar 10% pada tahun 2025. Hal ini akan ditopang oleh fundamental pasokan permintaan yang kuat. Namun untuk menjaga keseimbangan pasar minyak, aliansi OPEC+ (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) kemungkinan perlu terus membatasi produksi. Diperkirakan Arab Saudi dan Rusia akan memperpanjang pengurangan produksi/ekspor secara sukarela hingga kuartal pertama tahun 2024. Dengan asumsi Arab Saudi memompa lebih banyak minyak dan Rusia meningkatkan ekspor, persediaan minyak global kemungkinan akan tetap datar pada tahun 2024.

• Beralih ke logam, emas dan perak diperkirakan akan mengungguli sektor lainnya. Siklus pemotongan suku bunga yang dilakukan The Fed dan penurunan imbal hasil riil Amerika Serikat diperkirakan akan mendorong harga emas ke level tertinggi baru pada pertengahan tahun 2024, mencapai rata-rata $2,175/oz pada kuartal keempat. Demikian pula, harga perak kemungkinan akan mengikuti harga emas, rata-rata sekitar $30/oz pada kuartal keempat.



Prospek Pasar Forex

Pandangan pelaku pasar valuta asing (FX) terhadap prospek makro masih luas, langkah The Fed, bank-bank sentral di Eropa dan Asia yang mulai menahan suku bunga acuan memberikan pertanda positif bahwa cepat atau lambat pelandaian suku bunga acuan akan menyebar merata saja, mereka perlu menavigasi transisi di antara skenario-skenario ini secara taktis karena hal ini akan berdampak pada hasil yang berbeda bagi dolar Amerika Serikat.

Meskipun pergerakan dolar Amerika Serikat di masa depan terlihat bergelombang, greenback atau USD diperkirakan akan tetap pada level yang tinggi, dengan potensi mencapai level tertinggi baru. Jika penurunan suku bunga terwujud, dolar Amerika Serikat masih akan menghasilkan lebih dari 56% dari mata uang global secara riil pada tahun 2024.

(klik pada gambar untuk memperbesar)



EURUSD
Pertumbuhan ekonomi wilayah Eropa berpotensi lesu karena kawasan ini menghadapi tantangan berupa krisis energi yang berkelanjutan, pemulihan ekonomi pascapandemi, dan penurunan ekspor akibat perlambatan ekonomi global.

Dari sisi mata uang euro, prospek pemulihan yang meyakinkan pada tahun 2024 tampak suram karena kawasan ini sedang menuju resesi di tengah pembatasan suku bunga. Pemulihan mata uang tunggal tidak hanya memerlukan pelonggaran kebijakan The Fed, namun juga prospek pertumbuhan regional yang lebih baik.“Kinerja euro yang buruk terhadap dolar mungkin merupakan fenomena jangka panjang,” kata Chandan, dengan J.P. Morgan Research memperkirakan pasangan euro/dolar akan berada di antara paritas dan 1,05 pada paruh pertama tahun 2024.

• GBPUSD
Prospek serupa terjadi pada pound sterling Inggris, dengan pasar yang terombang-ambing antara inflasi yang tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah pada tahun 2024. Permasalahan yang menentukan bagi sterling pada tahun 2024 sebagian besar adalah seberapa jauh pengetatan kebijakan tahun ini dapat memperlambat pertumbuhan dan pasar tenaga kerja, sehingga Bank Dunia Inggris (BoE) cukup nyaman dengan prospek inflasi untuk menurunkan suku bunga bank.

Sikap bearish terhadap GBPUSD memasuki tahun 2024 akan berpotensi turun ke 1,18 pada kuartal pertama tahun 2024, sebelum naik ke 1,26 pada bulan Desember 2024.

Di Asia, tekanan struktural akan terus membebani mata uang yen Jepang pada tahun 2024. Kami memperkirakan apresiasi mata uang yen pada paruh kedua tahun 2024 didorong oleh faktor jangka pendek, yaitu perubahan suku bunga kebijakan relatif. Namun, apresiasi ini mungkin dangkal karena adanya tren penurunan jangka panjang.



Prospek Pasangan Mata Uang Utama

(klik pada gambar untuk memperbesar)




Catatan Penutup

• Langkah The Fed, bank-bank sentral di Eropa dan Asia yang mulai menahan suku bunga acuan memberikan pertanda positif bahwa cepat atau lambat pelandaian suku bunga acuan akan menyebar merata. Entah mulai di kuartal kedua atau awal kuartal ketiga tahun 2024. Ini jelas memberikan gambaran cukup baik bagi perekonomian global di 2024, meskipun mungkin tidak sebaik percepatan tahun 2023.

• Disinflasi dan hilangnya momentum ekonomi justru akan memberi ruang yang cukup bagi bank-bank sentral untuk mulai memangkas suku bunga di 2024. Mungkin bukan pemotongan yang besar, tapi terarah dan sistematis menuju level yang tepat ketika inflasi berhenti pada target setiap bank sentral. Setidaknya siklus kenaikan suku bunga acuan sudah berakhir. Inflasi tahunan global (indeks harga konsumen) diperkirakan akan moderat menjadi 4,9% pada 2024 dari sebelumnya 6,0% pada 2023.

• Pertumbuhan belanja konsumen dapat tetap positif secara keseluruhan pada 2024, tetapi barangkali pada tingkat yang lebih rendah dari 2023. Perekonomian Jerman juga mulai tumbuh positif, meskipun tipis. Secara perlahan sektor manufaktur mulai menggeliat diiringi permintaan ekspor produk otomotif yang membaik. Inggris juga mulai terlepas dari kubangan resesi dengan seperangkat kebijakan pro pasar yang dirilis PM Rishi Sunak. Investasi langsung terus membesar, menjadi yang terbaik ketiga di kawasan Eropa.

• Pemulihan ekonomi Tiongkok bergerak lamban meskipun banyak kebijakan stimulus moneter dan fiskal sudah dan akan terus digelontorkan. Namun, dengan rilis pertumbuhan PDB Tiongkok sebesar 4,9% di kuartal ketiga 2023, memberikan pertanda cukup kuat bahwa proses pemulihan ekonomi negara ini sudah berada pada jalur yang benar.

• Akhirnya, ekonomi global akan terasa lebih "normal" pada 2024 daripada tiga tahun sebelumnya (masa pendemi Covid-19). Secara perlahan dan konsisten terpantau Purchasing Manager Index (PMI) sektor manufaktur di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat sudah mendekati level 50, sebagai ambang batas ekonomi normal, dan siap melampaui level 50 sebagai fase ekspansi ekonomi.

Posting Komentar untuk "Market Outlook 2024 - Prospek Ekonomi Global"